Sabtu, 15 Juni 2013

Cerita Pendek

Do’a Terindah

Mentari pagi masih menyinari bumi tua ini. Semakin rentan, rapuh, dan lemah. Banyak sekali hal yang harus dilakukan untuk mempertahankan bumi ini. Ibu pertiwi seperti telah menyediakan bubur putih untuk anak-anaknya yang masih kecil. Mengingat perumpamaan itu, membuat kita sebagai anak tentunya tidak ingin mengecewakan ibu kita. Kisah seorang ibu dan anak akan dipertunjukkan di sini. Entah bagaimana menyimpulkan kisah ini. Haru, tangis, senyum, tawa, dan bahagia semua seperti terlarut dalam suatu air kehidupan di bumi.

Seorang wanita tua yang sungguh rapuh hidup sebatang kara. Dulunya, dia adalah seorang wanita cantik yang disegani banyak orang. Dia cantik, tinggi, dan baik. Suatu saat dia kuliah di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Namanya Yuanita Farida. Dia memiliki banyak penggemar di universitas itu. Hingga akhirnya dia menemukan seorang pria yang dia impikan. Pria itu tampan dan juga baik, namanya Reno Pradikta. Dia sudah mengenal pria itu sejak semester pertama dia masuk kuliah di universitas itu. Semakin lama, dia semakin suka saja pada pria itu. Saat dia dan pria itu sama-sama memasuki semester 4, mereka berdua akhirnya memilih untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi sayang, ternyata pria itu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Los Angeles, California. Dia harus mengikuti program tersebut selama 2 tahun. Selain bahagia karena sang pujaan hati termasuk satu-satunya mahasiswa yang dapat mengikuti program pertukaran pelahar tersebut, dia juga sedih karena akan ditinggal sang pujaan hati selama 2 tahun.

Rida     : “Ren, kamu pasti lama banget di Amerika.. Aku akan kangen banget sama kamu..”
Reno   : “Tenang aja Rid.. Aku Cuma 2 tahun di sana. Aku juga nggak bakal lupa sama kamu kok.”
Rida     : “Tapi aku tetap khawatir sama kamu.. Aku takut kamu sakit, aku ta…………”
Reno   : “Apa? Kamu takut? Takut aku kenapa? Semoga aku nggak apa-apa kok, rid.”
Rida     : “Bener ya? Kamu harus janji untuk tetap jaga kesehatan kamu. Aku nggak ingin kamu sakit atau apa..”
Reno   : “Iya, Rida sayang.. Aku akan ingat terus untuk jaga kesehatan demi kamu deh.”
Rida     : “Syukurlah kalau gitu.. Aku jadi sedikit lega dengarnya, Ren..”

Keesokan harinya pun Reno sudah bersiap untuk pergi ke bandara dan sudah siap untuk pergi ke Los Angeles. Dia membawa salah satu barang kesayangan milik Rida agar dia akan tetap merasa nyaman dan tenang walau jauh dari jangkauan Rida. Sepanjang perjalanan Reno selalu berdo’a untuk terus diberi keselamatan oleh Tuhan. Dia juga berdo’a kepada Tuhan untuk menjaga sang kekasih hati, Rida. Entah apa yang dipikirkan Reno saat itu hingga membuat dirinya tak ingin pergi meninggalkan Rida.

Reno   : “Sayang, aku kok jadi nggak nyaman untuk pergi meninggalkan kamu..”
Rida     : “Nggak nyaman gimana sih?”
Reno   : “Nggak tau, yang.. Rasanya berbeda banget. Kayak ada hal yang menghalangi aku untuk pergi menjauh darimu.”
Rida     : “Sudahlah, aku nggak apa-apa kok.. Tenang saja, Ren.. Kamu harus tenang dan nyaman dong..”
Reno   : “Aku tahu mungkin aku harus nyaman.. Tapi nggak tau kenapa sepertinya aku enggan pergi.”
Rida     : “Ren, kamu lupa dengan tujuan awalmu pergi dari sini?”
Reno   : “Enggak, Rid.. Aku nggak lupa.. Aku dapat program pertukaran pelajar ke Los Angeles.”
Rida     : “Nah, itu kamu tahu dan ingat.. Sudah sana kamu harus buruan masuk ke ruang tunggu.”
Reno   : “Iya deh, sayang.. Tapi kamu harus janji ke aku untuk tetap jaga kesehatan walau aku nggak ada di samping kamu untuk sementara.”
Rida     : “Ih, iya iya Reno sayang.. Aku tahu kok
J Tenang saja.. Kamu perhatian banget sama aku..”
Reno   : “Jelas dong.. Kamu ini siapa aku sih? Kok kayaknya seneng banget aku perhatiin.. Hahaha”
Rida     : “Nah, aku siapa kamu dong?”
Reno   : “Kamu itu rangkaian cinta kasih yang Tuhan kirimkan untuk mengisi kehidupanku yang kosong.”
Rida     : “Ah Reno.. Kamu ini selalu buat aku melayang tau, nggak? Hehehe”
Reno   : “Jelasss.. Siapa dulu? Reno !! :D”
Rida     : “Eh, udah udah.. Daritadi bahas hal nggak jelas deh.. Kamu buruan masuk.”
Reno   : “Iya sayang.. Sampai jumpa 2 tahun lagi ya.. Tunggu aku di sini
J
Rida     : “Iya sayangku.. Pasti..”

Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Reno pun bergegas pergi ke ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Rida pun tetap setia menunggu sang kekasih di bandara. Rida akan tetap menunggu hingga Reno berangkat menuju ke pesawatnya yang akan terbang 20 menit lagi. Walau dari kejauhan, itu sudah membuat Rida cukup lega dan tenang karena sang kekasih aman di bandara itu.

Perjalanan dari Jakarta menuju Amerika Serikat yang tidak dekat dan tidak sebentar membuat Reno makin jenuh dan tidak tenang. Dia selalu memikirkan Rida. Dia seperti mengkhawatirkan sesuatu. Dia takut terjadi sesuatu pada Rida. Namun, Reno harus tetap berpikir positif dan berpikir tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap orang yang dia sayang. Dia hanya terdiam duduk di kursi pesawat. Dia bingung harus melakukan apa untuk mengisi kekosongan hidupnya itu. Karena bingung, dia lebih memilih untuk tidur saja dan berharap akan segera sampai di Los Angeles, California.

Beberapa jam kemudian, pesawat megah itu tiba di Bandara Internasional LAX, Los Angeles, California. Reno yang tertidur pulas di pesawat tidak menyadari bahwa dia telah tiba di Los Angeles. Hingga pramugari pesawat tersebut membangunkan Reno untuk turun dari pesawat yang sekitar 5 menit lagi akan lepas landas kembali dan menuju ke Maldives itu. Reno turun dengan wajah riang dan mulai melupakan kegelisahannya terhadap Rida di Indonesia. Saat dia masih berada di bandara, dia bertemu dengan sesosok wanita cantik berparas oriental yang bernama Xin Xuen, kebetulan dia adalah orang Indonesia yang masih keturunan Tionghoa. Mereka tidak sengaja bertemu saat pengambilang koper mereka yang kebetulan mirip sekali.

Reno : “Maaf.. Maaf, koper kita sama ternyata.. Saya minta maaf.”
Xuen : “Tidak apa-apa.. Kan memang tidak sengaja koper kita mirip..”
Reno : “Hehehe.. Iya, sekali lagi saya meminta maaf atas kejadian ini. Perkenalkan, nama saya Reno Pradikta. Kamu bisa memanggil saya Reno. Kamu?”
Xuen : “Oh, aku Xin Xuen. Kamu bisa memanggil aku Xuen.. Aku masih orang Indonesia kok..”
Reno : “Hahaha, iya.. Kelihatan sekali kalau kamu orang Indonesia..”
Xuen : “Kamu ini ada-ada saja.. Darimana kamu bisa tahu kalau aku pasti orang Indonesia?”
Reno : “Itu di koper kamu ada tulisan Indonesia..”
Xuen : “Oh iya ya.. Ternyata kamu ini orangnya teliti sekali.”

Setelah bercakap-cakap selama beberapa menit sambil menunggu bagasi yang datang, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar menuju ruang tunggu bandara bersamaan. Mereka pun terus melanjutkan pembicaraan mereka yang semakin serius saja. Kehadiran Xuen di samping Reno membuat dia sedikit melupakan gelisah dan rasa gundahnya akibat meninggalkan Rida di Indonesia.
Xuen : “Oh iya, kamu ada urusan apa ke Los Angeles? Liburan? Kerja? Atau apa?”
Reno : “Emangnya wajahku setua itu, ya? Kok sampai dikira kerja di sini? Hahaha”
Xuen : “Habisnya kamu kelihatan dewasa banget..”
Reno : “Dewasa apa tua sih? Beda tipis lho itu.. Haha. Ah, udah deh.. Lupain..
J Aku di sini diikutkan program pertukaran pelajar dari kalangan mahasiswa semester 4.”
Xuen : “Pertukaran pelajar? Berarti kamu pinter banget dong.. Hahaha”
Reno : “Ah, nggak juga kok.. Biasa aja.. Kamu sendiri ke Los Angeles ngapain?”
Xuen : “Aku ke sini mau ikut “L.A. Photgraphy Challenges Cup”.. Soalnya, lomba fotografi ini merupakan lomba fotografi terbesar kedua di dunia.”
Reno : “Wah wah, cewek yang jadi fotografer itu menurutku keren banget lhoo..”
Xuen : “Hahahaa.. Bisa aja kamu ini..”

Percakapan Reno dan Xuen makin lama makin akrab saja. Tapi, mungkin keakraban Reno hanya sebatas teman saja. Tidak mungkin Reno mengkhianati Rida yang jauh darinya saat ini. Akhirnya, setelah sekian lama mereka berdua berbincang-bincang menceritakan tentang kehidupan mereka, Reno mengakhiri pembicaraan dan langsung izin pulang.

Reno : “Wah… Kita sudah lumayan lama nih ngobrolnya..”
Xuen : “Iya, sampai lupa waktu.. J
Reno : “Hahahaha.. Iya, aku pamit pulang dulu ya.. Sampai ketemu besok..”
Xuen : “Iya.. Oke oke.. Sampai ketemu besok juga..”

Setelah itu, Reno pulang menuju rumah sementaranya di Los Angeles, California. Di perjalanan, Reno membayangkan Xuen yang perilakunya sangat mirip dengan Rida yang selalu ramah pada orang lain. Karena itulah Reno jadi rindu kepada Rida. Walau baru sehari mereka berdua tidak bertemu, rasanya sudah seperti berhari-hari. Reno yang notabennya adalah seorang mahasiswa yang rajin dan pintar, sekarang seperti seorang yang bodoh tanpa arah. Dia layaknya pohon yang tidak mempunyai akar. Dia tidak bisa menopang hidupnya sendiri tanpa seorang Rida. Oleh karena itu, Reno langsung menelepon Rida saat dia baru saja sampai di rumah sementaranya itu. Dia melepas rindu saat mendengar suara Rida. Reno berpikir bahwa Rida pasti baik-baik saja di sana. Tapi, tanpa sepengetahuan Reno, ada hal yang buruk terjadi pada Rida. Tapi sungguh sayang, Rida enggan bercerita pada Reno apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Reno   : “Haloo sayang.. Di sana malam, ya?”
Rida     : “Hehehe.. Halo juga sayangkuu.. Iya, di sini malam kok. Pasti di sana masih sore deh..”
Reno   : “Iya.. Tapi, sepertinya sore yang seharusnya indah sekarang jadi suram karena nggak ada kamu di sini..”
Rida     : “Ah kamu ini bisa aja deh sayang.. Aku jadi malu..”
Reno   : “Kamu ini kayak sama siapa aja gitu.. Aku kan pacar kamu.. Jadi nggak usah malu..”
Rida     : “Iya deh iya.. Hehehe.. Ada apa kamu telepon aku?”
Reno   : “Ih, kamu ini kenapa sih? Aku telepon kamu karena aku kangen dong.. Masak pacar sendiri nggak boleh telepon karena kangen?”
Rida     : “Ya boleh dong sayang.. Masak nggak boleh sih, ya kan? Hehehe”

Mereka saling menelepon cukup lama hingga di Indonesia menjelang larut malam. Reno sadar, bahwa Rida tidak boleh tidur atau istirahat terlalu larut. Karena itu bisa membuat kondisi Rida yang awalnya bugar menjadi lemah saat di sekolah. Lalu, Reno terpaksa harus menutup teleponnya. Dia harus menghentikan pembicaraannya dengan Rida malam itu. Tapi tidak cukup malam itu saja Reno menelepon Rida. Setiap saat jika Reno mempunyai waktu luang, dia selalu menelepon Rida. Karena itu yang dapat membuat Reno lebih tenang di luar negeri sana. Kehidupan di Indonesia dengan di Los Angeles sangat jauh berbeda. Reno pun kadang merasa ada yang sedikit menyimpang dari kebiasaannya hidup di Indonesia dan kebiasaannya hidup di Los Angeles untuk saat ini. Tapi, Reno bersyukur bahwa dia hanya tinggal di Los Angeles untuk sementara dan bukan untuk selamanya. Selain karena budaya dan cara kehidupan yang sangat berbeda dengan yang di Indonesia, kehidupan di sana tanpa Rida serasa sayur yang tidak diberi bumbu sama sekali sehingga rasanya hambar. Itulah yang dirasakan Reno saat ini. Dia kesepian tanpa Rida di sisinya.

Berhari-hari ia lalui di Los Angeles. Entah kenapa Reno memiliki perasaan yang tidak tenang sama sekali di sana. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia panik dan bingung. Dia mengkhawatirkan sesuatu, tapi dia tidak mengerti dan tidak paham itu apa. Dia pun langsung menelepon Rida. Dia takut terjadi sesuatu pada Rida.

Sekali dia menelepon Rida, tidak ada jawaban. Dia kira Rida masih sibuk. Menunggu sesaat, akhirnya dia menelepon Rida kembali, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Hingga beberapa kali ia menelepon juga tetap tidak ada jawaban. Reno pun semakin gelisah, takut hal buruk akan terjadi. Karena semakin lama Rida tidak menjawab telepon, akhirnya Reno pun mencoba untuk menghubungi teman Rida yang berada di Los Angeles. Tapi apa daya, temannya itu sudah lama tidak berkomunikasi dengan Rida. Alhasil, dia pun tidak mengerti bagaimana keadaan Rida di Indonesia.

Namanya juga kekasih setia. Reno meminta izin kepada dosen besarnya di universitas untuk terbang ke Indonesia selama 2 hari untuk memastikan keadaan Rida baik-baik saja di sana. Awalnya, dosen besar tidak mengizinkan Reno pergi dalam jarak yang cukup jauh karena Reno baru saja menjadi mahasiswa program pertukaran pelajar yang baru. Tapi, karena kesungguhan Reno meminta izin akhirnya sang dosen pun mengizinkan Reno walau dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang pertama, Reno harus kembali ke Los Angeles dalam waktu yang sudah ditentukan. Kedua, Reno tidak boleh membawa barang-barang terlalu banyak karena dikhawatirkan akan meninggalkan Los Angeles tanpa kembali. Reno pun mematuhi permintaan dosen besarnya itu agar diizinkan terbang ke Indonesia. Reno juga tidak lupa berkata pada ibunya.

Reno   : “Bu, aku berencana pulang Minggu ini..”
Ibu       : “Pulang? Kenapa, Ren? Apa ada sesuatu yang harus kamu selesaikan terlebih dahulu di sini?
Reno   : “Enggak, bu.. Aku tadi malam menelepon Rida tapi tidak ada jawaban bu..”
Ibu       : “Mungkin dia lagi sibuk.. Sudahlah nggak usah khawatir gitu..”
Reno   : “Iya bu, tapi saya berulang kali menelepon dia tapi juga berulang kali itu pula dia tidak menjawab, bu.”
Ibu       : “Haduh, ya sudah kalau memang itu maumu.. Hati-hati ya kalau pulang..”
Reno   : “Iya bu.. Terima kasih sudah mengizinkan aku pulang..”
Ibu       : “Iya, nak..”

Setelah meminta izin pada ibu, keesokan harinya Reno siap-siap untuk berangkat ke Bandara Internasional LAX di Los Angeles, California. Saat dia keluar rumah, Xuen berjalan di depannya. Xuen bertanya pada Reno kenapa dia membawa barang-barangnya dan seperti ingin pergi jauh. Ternyata setelah dijelaskan, Xuen mengerti rasa kekhawatiran Reno yang sungguh luar biasa pada sang kekasih, Rida. Akhirnya, Reno bergegas kembali untuk menuju ke bandara. Di pesawat dia masih saja cemas akan keadaan Rida di Indonesia.

Pesawat yang dinaiki Reno tiba-tiba saja dikabarkan mengalami penundaan selama 2 jam. Reno semakin tidak sabar dan semakin cemas pada kekasihnya. Dia sungguh ingin segera pulang ke Indonesia. Ternyata, sudah disediakan pesawat cadangan yang dikhususkan untuk mahasiswa pertukaran pelajar. Reno pun segera masuk ke dalam pesawat yang sudah bertengger di landasan. Sepanjang perjalanan dia berdo’a dan terus berdo’a supaya saat dia sampai di Indonesia, dia tidak akan mendengar kabar yang buruk. Untaian do’a selalu dia iramakan dengan lembut selama dia berada di burung besi itu. Beberapa jam kemudian, dia sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Reno                           : “Syukurlah aku sampai di bandara dengan selamat.. Terima kasih Tuhan.”
Petugas Bandara        : “Maaf pak.. Apa anda berkenan untuk naik taksi dari bandara kami?”
Reno                           : “Oh, iya pak.. Saya sangat membutuhkan. Tolong sampaikan pada sopir taksi untuk bergegas ya, pak. Karena saya ada hal yang sangat penting.”
Petugas Bandara        : “Baik pak.. Laksanakan. Tunggu sebentar saja ya, pak..”
Reno                           : “Iya, pak.. Terima kasih. Agak cepat ya..”

Di dalam taksi pun keadaan hati Reno masih belum tenang. Dia masih saja gelisah. Dia meminta sang sopir untuk mengendarai taksinya lebih cepat lagi. Beberapa saat kemudian, Reno tiba di rumahnya. Walaupun dia khawatir pada kekasihnya, dia tetap harus pulang dulu ke rumahnya dan bertemu dengan ibunya. Setelah bertemu sebentar dengan ibunya, dia langsung pamit untuk pergi ke rumah Rida.

Belum sampai di rumah Rida, Reno mendapatkan telepon dari seseorang yang tidak dia kenal. Dia bingung, nomornya tidak dia kenali. Tapi dia tetap mengangkat telepon itu karena dia berpikir mungkin saja ada berita penting dari orang ini. Saat dia jawab telepon itu, dia sama sekali tidak mengira akan mendengar hal buruk. Tapi apa daya, berita buruk pun sudah terlanjur melintas di pendengarannya dan merasuk di ingatan. Berita itu cukup menusuk dan meremukkan hati Reno. Berita apa yang dia terima?

Penelepon      : “Maaf.. Apa ini benar nomor telepon genggam Pak Reno?”
Reno               : “Iya, benar.. Maaf sebelumnya, anda ini siapa? Kok bisa tau nomor telepon saya?”
Penelepon      : “Pak.. Saya tetangga dari kekasih bapak yang bernama Rida.”
Reno               : “Oh, iya iya pak.. Ada perlu apa ya bapak menelepon saya? Apa ada berita penting dari Rida?”
Penelepon      : “Iya pak, ada.. Kekasih bapak mengalami kecelakaan beberapa menit yang lalu.”
Reno               : “Apa? Kecelakaan? Astaga, bagaimana ini bisa terjadi? Tuhan.. Ada apa dengan kekasihku.. L Sembuhkan kekasihku, Tuhan…”
Penelepon      : “Dia mengalami luka yang sangat parah. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tapi dia sudah tidak kuat lagi.”
Reno               : “Maksud bapak bagaimana? Tolong jelaskan, pak.. Tolong!!”
Penelepon      : “Mohon maaf pak sebelumnya. Saya harus mengatakan ini pada anda hanya melalui telepon genggam. Rida, kekasih anda sudah tiada pak. Dia sudah meninggalkan dunia ini..”
Reno               : “Oh Tuhan.. Apa benar berita ini? Baik pak.. Terima kasih atas berita dari anda.. Saya sangat berterima kasih pada anda.”
Penelepon      : “Sama-sama pak.. Anda harus tabah dengan kejadian ini.. Rida pasti sudah tenang di alam sana.”
Reno               : “Iya pak.. Terima kasih..”

Setelah mengetahui kematian sang kekasih, Reno tampak muram dan sedih. Dia sungguh tidak rela dengan kepergian pujaan hatinya itu. Dia masih merasa ini seperti mimpi buruk yang masih saja menghantui tidurnya. Tapi apa daya, dia tidak bisa membohongi kenyataan yang berbicara bahwa Rida telah tiada. Xuen yang mendapat kabar kematian Rida dari Reno langsung terbang ke Indonesia untuk datang berziarah ke makam Rida. Xuen sangat sedih dan terpukul. Karena, Xuen sudah menganggap Rida sebagai kakak ipar. Mengapa demikian? Ternyata, Xuen menganggap Reno sebagai kakaknya.

Kepergian Rida untuk selama-lamanya memang membuat seluruh orang yang berada di dekatnya dan yang menyayanginya sangat terpukul. Tidak terkecuali Reno yang sangat mencintai Rida dengan segenap jiwanya. Tapi, dia sadar. Menangis dan meratapi tidak akan mengembalikan jiwa Rida yang telah tiada. Jadi, Reno harus mendo’akan Rida. Dia percaya kekuatan do’a dapat membuat Rida lebih bahagia di alam yang indah di sana. Reno pun kini hidup tanpa jiwa dan raga Rida.





Asri Ariyantini S. (05)
Emperor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar