Do’a Terindah
Mentari
pagi masih menyinari bumi tua ini. Semakin rentan, rapuh, dan lemah. Banyak
sekali hal yang harus dilakukan untuk mempertahankan bumi ini. Ibu pertiwi
seperti telah menyediakan bubur putih untuk anak-anaknya yang masih kecil.
Mengingat perumpamaan itu, membuat kita sebagai anak tentunya tidak ingin
mengecewakan ibu kita. Kisah seorang ibu dan anak akan dipertunjukkan di sini.
Entah bagaimana menyimpulkan kisah ini. Haru, tangis, senyum, tawa, dan bahagia
semua seperti terlarut dalam suatu air kehidupan di bumi.
Seorang
wanita tua yang sungguh rapuh hidup sebatang kara. Dulunya, dia adalah seorang
wanita cantik yang disegani banyak orang. Dia cantik, tinggi, dan baik. Suatu
saat dia kuliah di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Namanya Yuanita
Farida. Dia memiliki banyak penggemar di universitas itu. Hingga akhirnya dia
menemukan seorang pria yang dia impikan. Pria itu tampan dan juga baik, namanya
Reno Pradikta. Dia sudah mengenal pria itu sejak semester pertama dia masuk
kuliah di universitas itu. Semakin lama, dia semakin suka saja pada pria itu.
Saat dia dan pria itu sama-sama memasuki semester 4, mereka berdua akhirnya
memilih untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi sayang, ternyata pria itu
mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Los
Angeles, California. Dia harus mengikuti program tersebut selama 2 tahun.
Selain bahagia karena sang pujaan hati termasuk satu-satunya mahasiswa yang
dapat mengikuti program pertukaran pelahar tersebut, dia juga sedih karena akan
ditinggal sang pujaan hati selama 2 tahun.
Rida : “Ren, kamu pasti lama banget di Amerika..
Aku akan kangen banget sama kamu..”
Reno : “Tenang aja Rid.. Aku Cuma 2 tahun di sana.
Aku juga nggak bakal lupa sama kamu kok.”
Rida : “Tapi aku tetap khawatir sama kamu.. Aku
takut kamu sakit, aku ta…………”
Reno : “Apa? Kamu takut? Takut aku kenapa? Semoga
aku nggak apa-apa kok, rid.”
Rida : “Bener ya? Kamu harus janji untuk tetap
jaga kesehatan kamu. Aku nggak ingin kamu sakit atau apa..”
Reno : “Iya, Rida sayang.. Aku akan ingat terus
untuk jaga kesehatan demi kamu deh.”
Rida : “Syukurlah kalau gitu.. Aku jadi sedikit
lega dengarnya, Ren..”
Keesokan
harinya pun Reno sudah bersiap untuk pergi ke bandara dan sudah siap untuk
pergi ke Los Angeles. Dia membawa salah satu barang kesayangan milik Rida agar
dia akan tetap merasa nyaman dan tenang walau jauh dari jangkauan Rida.
Sepanjang perjalanan Reno selalu berdo’a untuk terus diberi keselamatan oleh
Tuhan. Dia juga berdo’a kepada Tuhan untuk menjaga sang kekasih hati, Rida. Entah
apa yang dipikirkan Reno saat itu hingga membuat dirinya tak ingin pergi
meninggalkan Rida.
Reno : “Sayang, aku kok jadi nggak nyaman untuk
pergi meninggalkan kamu..”
Rida : “Nggak nyaman gimana sih?”
Reno : “Nggak tau, yang.. Rasanya berbeda banget. Kayak ada hal yang menghalangi aku untuk pergi menjauh darimu.”
Rida : “Nggak nyaman gimana sih?”
Reno : “Nggak tau, yang.. Rasanya berbeda banget. Kayak ada hal yang menghalangi aku untuk pergi menjauh darimu.”
Rida : “Sudahlah, aku nggak apa-apa kok.. Tenang
saja, Ren.. Kamu harus tenang dan nyaman dong..”
Reno : “Aku tahu mungkin aku harus nyaman.. Tapi
nggak tau kenapa sepertinya aku enggan pergi.”
Rida : “Ren, kamu lupa dengan tujuan awalmu pergi
dari sini?”
Reno : “Enggak, Rid.. Aku nggak lupa.. Aku dapat
program pertukaran pelajar ke Los Angeles.”
Rida : “Nah, itu kamu tahu dan ingat.. Sudah sana
kamu harus buruan masuk ke ruang tunggu.”
Reno : “Iya deh, sayang.. Tapi kamu harus janji ke
aku untuk tetap jaga kesehatan walau aku nggak ada di samping kamu untuk
sementara.”
Rida : “Ih, iya iya Reno sayang.. Aku tahu kok J Tenang saja.. Kamu perhatian banget sama aku..”
Reno : “Jelas dong.. Kamu ini siapa aku sih? Kok kayaknya seneng banget aku perhatiin.. Hahaha”
Rida : “Ih, iya iya Reno sayang.. Aku tahu kok J Tenang saja.. Kamu perhatian banget sama aku..”
Reno : “Jelas dong.. Kamu ini siapa aku sih? Kok kayaknya seneng banget aku perhatiin.. Hahaha”
Rida : “Nah, aku siapa kamu dong?”
Reno : “Kamu itu rangkaian cinta kasih yang Tuhan
kirimkan untuk mengisi kehidupanku yang kosong.”
Rida : “Ah Reno.. Kamu ini selalu buat aku
melayang tau, nggak? Hehehe”
Reno : “Jelasss.. Siapa dulu? Reno !! :D”
Rida : “Eh, udah udah.. Daritadi bahas hal nggak
jelas deh.. Kamu buruan masuk.”
Reno : “Iya sayang.. Sampai jumpa 2 tahun lagi ya.. Tunggu aku di sini J”
Reno : “Iya sayang.. Sampai jumpa 2 tahun lagi ya.. Tunggu aku di sini J”
Rida : “Iya sayangku.. Pasti..”
Setelah berbincang cukup
lama, akhirnya Reno pun bergegas pergi ke ruang tunggu Bandara Internasional
Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Rida pun tetap setia menunggu sang kekasih
di bandara. Rida akan tetap menunggu hingga Reno berangkat menuju ke pesawatnya
yang akan terbang 20 menit lagi. Walau dari kejauhan, itu sudah membuat Rida
cukup lega dan tenang karena sang kekasih aman di bandara itu.
Perjalanan dari Jakarta
menuju Amerika Serikat yang tidak dekat dan tidak sebentar membuat Reno makin
jenuh dan tidak tenang. Dia selalu memikirkan Rida. Dia seperti mengkhawatirkan
sesuatu. Dia takut terjadi sesuatu pada Rida. Namun, Reno harus tetap berpikir
positif dan berpikir tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap orang
yang dia sayang. Dia hanya terdiam duduk di kursi pesawat. Dia bingung harus
melakukan apa untuk mengisi kekosongan hidupnya itu. Karena bingung, dia lebih
memilih untuk tidur saja dan berharap akan segera sampai di Los Angeles,
California.
Beberapa jam kemudian,
pesawat megah itu tiba di Bandara Internasional LAX, Los Angeles, California.
Reno yang tertidur pulas di pesawat tidak menyadari bahwa dia telah tiba di Los
Angeles. Hingga pramugari pesawat tersebut membangunkan Reno untuk turun dari
pesawat yang sekitar 5 menit lagi akan lepas landas kembali dan menuju ke
Maldives itu. Reno turun dengan wajah riang dan mulai melupakan kegelisahannya
terhadap Rida di Indonesia. Saat dia masih berada di bandara, dia bertemu
dengan sesosok wanita cantik berparas oriental yang bernama Xin Xuen, kebetulan
dia adalah orang Indonesia yang masih keturunan Tionghoa. Mereka tidak sengaja
bertemu saat pengambilang koper mereka yang kebetulan mirip sekali.
Reno : “Maaf.. Maaf, koper
kita sama ternyata.. Saya minta maaf.”
Xuen : “Tidak apa-apa.. Kan memang tidak sengaja koper kita mirip..”
Reno : “Hehehe.. Iya, sekali lagi saya meminta maaf atas kejadian ini. Perkenalkan, nama saya Reno Pradikta. Kamu bisa memanggil saya Reno. Kamu?”
Xuen : “Tidak apa-apa.. Kan memang tidak sengaja koper kita mirip..”
Reno : “Hehehe.. Iya, sekali lagi saya meminta maaf atas kejadian ini. Perkenalkan, nama saya Reno Pradikta. Kamu bisa memanggil saya Reno. Kamu?”
Xuen : “Oh, aku Xin Xuen.
Kamu bisa memanggil aku Xuen.. Aku masih orang Indonesia kok..”
Reno : “Hahaha, iya.. Kelihatan sekali kalau kamu orang Indonesia..”
Reno : “Hahaha, iya.. Kelihatan sekali kalau kamu orang Indonesia..”
Xuen : “Kamu ini ada-ada
saja.. Darimana kamu bisa tahu kalau aku pasti orang Indonesia?”
Reno : “Itu di koper kamu ada tulisan Indonesia..”
Reno : “Itu di koper kamu ada tulisan Indonesia..”
Xuen : “Oh iya ya..
Ternyata kamu ini orangnya teliti sekali.”
Setelah bercakap-cakap
selama beberapa menit sambil menunggu bagasi yang datang, akhirnya mereka
memutuskan untuk keluar menuju ruang tunggu bandara bersamaan. Mereka pun terus
melanjutkan pembicaraan mereka yang semakin serius saja. Kehadiran Xuen di
samping Reno membuat dia sedikit melupakan gelisah dan rasa gundahnya akibat
meninggalkan Rida di Indonesia.
Xuen : “Oh iya, kamu ada
urusan apa ke Los Angeles? Liburan? Kerja? Atau apa?”
Reno : “Emangnya wajahku
setua itu, ya? Kok sampai dikira kerja di sini? Hahaha”
Xuen : “Habisnya kamu
kelihatan dewasa banget..”
Reno : “Dewasa apa tua sih? Beda tipis lho itu.. Haha. Ah, udah deh.. Lupain.. J Aku di sini diikutkan program pertukaran pelajar dari kalangan mahasiswa semester 4.”
Reno : “Dewasa apa tua sih? Beda tipis lho itu.. Haha. Ah, udah deh.. Lupain.. J Aku di sini diikutkan program pertukaran pelajar dari kalangan mahasiswa semester 4.”
Xuen : “Pertukaran
pelajar? Berarti kamu pinter banget dong.. Hahaha”
Reno : “Ah, nggak juga
kok.. Biasa aja.. Kamu sendiri ke Los Angeles ngapain?”
Xuen : “Aku ke sini mau
ikut “L.A. Photgraphy Challenges Cup”.. Soalnya, lomba fotografi ini merupakan
lomba fotografi terbesar kedua di dunia.”
Reno : “Wah wah, cewek
yang jadi fotografer itu menurutku keren banget lhoo..”
Xuen : “Hahahaa.. Bisa aja kamu ini..”
Xuen : “Hahahaa.. Bisa aja kamu ini..”
Percakapan Reno dan Xuen
makin lama makin akrab saja. Tapi, mungkin keakraban Reno hanya sebatas teman
saja. Tidak mungkin Reno mengkhianati Rida yang jauh darinya saat ini.
Akhirnya, setelah sekian lama mereka berdua berbincang-bincang menceritakan
tentang kehidupan mereka, Reno mengakhiri pembicaraan dan langsung izin pulang.
Reno : “Wah… Kita sudah
lumayan lama nih ngobrolnya..”
Xuen : “Iya, sampai lupa
waktu.. J”
Reno : “Hahahaha.. Iya,
aku pamit pulang dulu ya.. Sampai ketemu besok..”
Xuen : “Iya.. Oke oke..
Sampai ketemu besok juga..”
Setelah itu, Reno pulang
menuju rumah sementaranya di Los Angeles, California. Di perjalanan, Reno
membayangkan Xuen yang perilakunya sangat mirip dengan Rida yang selalu ramah
pada orang lain. Karena itulah Reno jadi rindu kepada Rida. Walau baru sehari mereka
berdua tidak bertemu, rasanya sudah seperti berhari-hari. Reno yang notabennya
adalah seorang mahasiswa yang rajin dan pintar, sekarang seperti seorang yang
bodoh tanpa arah. Dia layaknya pohon yang tidak mempunyai akar. Dia tidak bisa
menopang hidupnya sendiri tanpa seorang Rida. Oleh karena itu, Reno langsung
menelepon Rida saat dia baru saja sampai di rumah sementaranya itu. Dia melepas
rindu saat mendengar suara Rida. Reno berpikir bahwa Rida pasti baik-baik saja
di sana. Tapi, tanpa sepengetahuan Reno, ada hal yang buruk terjadi pada Rida. Tapi
sungguh sayang, Rida enggan bercerita pada Reno apa yang sebenarnya terjadi
padanya.
Reno : “Haloo sayang.. Di sana malam, ya?”
Rida : “Hehehe.. Halo juga sayangkuu.. Iya, di
sini malam kok. Pasti di sana masih sore deh..”
Reno : “Iya.. Tapi, sepertinya sore yang seharusnya
indah sekarang jadi suram karena nggak ada kamu di sini..”
Rida : “Ah kamu ini bisa aja deh sayang.. Aku jadi malu..”
Rida : “Ah kamu ini bisa aja deh sayang.. Aku jadi malu..”
Reno : “Kamu ini kayak sama siapa aja gitu.. Aku
kan pacar kamu.. Jadi nggak usah malu..”
Rida : “Iya deh iya.. Hehehe.. Ada apa kamu
telepon aku?”
Reno : “Ih, kamu ini kenapa sih? Aku telepon kamu karena aku kangen dong.. Masak pacar sendiri nggak boleh telepon karena kangen?”
Reno : “Ih, kamu ini kenapa sih? Aku telepon kamu karena aku kangen dong.. Masak pacar sendiri nggak boleh telepon karena kangen?”
Rida : “Ya boleh dong sayang.. Masak nggak boleh
sih, ya kan? Hehehe”
Mereka saling menelepon
cukup lama hingga di Indonesia menjelang larut malam. Reno sadar, bahwa Rida
tidak boleh tidur atau istirahat terlalu larut. Karena itu bisa membuat kondisi
Rida yang awalnya bugar menjadi lemah saat di sekolah. Lalu, Reno terpaksa
harus menutup teleponnya. Dia harus menghentikan pembicaraannya dengan Rida
malam itu. Tapi tidak cukup malam itu saja Reno menelepon Rida. Setiap saat
jika Reno mempunyai waktu luang, dia selalu menelepon Rida. Karena itu yang
dapat membuat Reno lebih tenang di luar negeri sana. Kehidupan di Indonesia
dengan di Los Angeles sangat jauh berbeda. Reno pun kadang merasa ada yang
sedikit menyimpang dari kebiasaannya hidup di Indonesia dan kebiasaannya hidup
di Los Angeles untuk saat ini. Tapi, Reno bersyukur bahwa dia hanya tinggal di
Los Angeles untuk sementara dan bukan untuk selamanya. Selain karena budaya dan
cara kehidupan yang sangat berbeda dengan yang di Indonesia, kehidupan di sana
tanpa Rida serasa sayur yang tidak diberi bumbu sama sekali sehingga rasanya
hambar. Itulah yang dirasakan Reno saat ini. Dia kesepian tanpa Rida di
sisinya.
Berhari-hari ia lalui di
Los Angeles. Entah kenapa Reno memiliki perasaan yang tidak tenang sama sekali
di sana. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia panik dan bingung. Dia
mengkhawatirkan sesuatu, tapi dia tidak mengerti dan tidak paham itu apa. Dia
pun langsung menelepon Rida. Dia takut terjadi sesuatu pada Rida.
Sekali dia menelepon Rida,
tidak ada jawaban. Dia kira Rida masih sibuk. Menunggu sesaat, akhirnya dia
menelepon Rida kembali, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Hingga beberapa kali
ia menelepon juga tetap tidak ada jawaban. Reno pun semakin gelisah, takut hal
buruk akan terjadi. Karena semakin lama Rida tidak menjawab telepon, akhirnya
Reno pun mencoba untuk menghubungi teman Rida yang berada di Los Angeles. Tapi
apa daya, temannya itu sudah lama tidak berkomunikasi dengan Rida. Alhasil, dia
pun tidak mengerti bagaimana keadaan Rida di Indonesia.
Namanya juga kekasih setia.
Reno meminta izin kepada dosen besarnya di universitas untuk terbang ke
Indonesia selama 2 hari untuk memastikan keadaan Rida baik-baik saja di sana.
Awalnya, dosen besar tidak mengizinkan Reno pergi dalam jarak yang cukup jauh
karena Reno baru saja menjadi mahasiswa program pertukaran pelajar yang baru.
Tapi, karena kesungguhan Reno meminta izin akhirnya sang dosen pun mengizinkan
Reno walau dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang pertama,
Reno harus kembali ke Los Angeles dalam waktu yang sudah ditentukan. Kedua,
Reno tidak boleh membawa barang-barang terlalu banyak karena dikhawatirkan akan
meninggalkan Los Angeles tanpa kembali. Reno pun mematuhi permintaan dosen
besarnya itu agar diizinkan terbang ke Indonesia. Reno juga tidak lupa berkata
pada ibunya.
Reno : “Bu, aku berencana pulang Minggu ini..”
Ibu : “Pulang? Kenapa, Ren? Apa ada sesuatu
yang harus kamu selesaikan terlebih dahulu di sini?
Reno : “Enggak, bu.. Aku tadi malam menelepon Rida
tapi tidak ada jawaban bu..”
Ibu : “Mungkin dia lagi sibuk.. Sudahlah nggak usah khawatir gitu..”
Reno : “Iya bu, tapi saya berulang kali menelepon dia tapi juga berulang kali itu pula dia tidak menjawab, bu.”
Ibu : “Mungkin dia lagi sibuk.. Sudahlah nggak usah khawatir gitu..”
Reno : “Iya bu, tapi saya berulang kali menelepon dia tapi juga berulang kali itu pula dia tidak menjawab, bu.”
Ibu : “Haduh, ya sudah kalau memang itu
maumu.. Hati-hati ya kalau pulang..”
Reno : “Iya bu.. Terima kasih sudah mengizinkan aku pulang..”
Ibu : “Iya, nak..”
Reno : “Iya bu.. Terima kasih sudah mengizinkan aku pulang..”
Ibu : “Iya, nak..”
Setelah meminta izin pada
ibu, keesokan harinya Reno siap-siap untuk berangkat ke Bandara Internasional
LAX di Los Angeles, California. Saat dia keluar rumah, Xuen berjalan di depannya.
Xuen bertanya pada Reno kenapa dia membawa barang-barangnya dan seperti ingin
pergi jauh. Ternyata setelah dijelaskan, Xuen mengerti rasa kekhawatiran Reno
yang sungguh luar biasa pada sang kekasih, Rida. Akhirnya, Reno bergegas
kembali untuk menuju ke bandara. Di pesawat dia masih saja cemas akan keadaan
Rida di Indonesia.
Pesawat yang dinaiki Reno
tiba-tiba saja dikabarkan mengalami penundaan selama 2 jam. Reno semakin tidak
sabar dan semakin cemas pada kekasihnya. Dia sungguh ingin segera pulang ke
Indonesia. Ternyata, sudah disediakan pesawat cadangan yang dikhususkan untuk
mahasiswa pertukaran pelajar. Reno pun segera masuk ke dalam pesawat yang sudah
bertengger di landasan. Sepanjang perjalanan dia berdo’a dan terus berdo’a
supaya saat dia sampai di Indonesia, dia tidak akan mendengar kabar yang buruk.
Untaian do’a selalu dia iramakan dengan lembut selama dia berada di burung besi
itu. Beberapa jam kemudian, dia sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
di Tangerang, Banten.
Reno :
“Syukurlah aku sampai di bandara dengan selamat.. Terima kasih Tuhan.”
Petugas Bandara : “Maaf pak.. Apa anda berkenan untuk
naik taksi dari bandara kami?”
Reno : “Oh, iya pak.. Saya
sangat membutuhkan. Tolong sampaikan pada sopir taksi untuk bergegas ya, pak.
Karena saya ada hal yang sangat penting.”
Petugas Bandara : “Baik pak.. Laksanakan. Tunggu sebentar
saja ya, pak..”
Reno : “Iya, pak.. Terima kasih. Agak cepat ya..”
Reno : “Iya, pak.. Terima kasih. Agak cepat ya..”
Di dalam taksi pun keadaan
hati Reno masih belum tenang. Dia masih saja gelisah. Dia meminta sang sopir
untuk mengendarai taksinya lebih cepat lagi. Beberapa saat kemudian, Reno tiba
di rumahnya. Walaupun dia khawatir pada kekasihnya, dia tetap harus pulang dulu
ke rumahnya dan bertemu dengan ibunya. Setelah bertemu sebentar dengan ibunya,
dia langsung pamit untuk pergi ke rumah Rida.
Belum sampai di rumah
Rida, Reno mendapatkan telepon dari seseorang yang tidak dia kenal. Dia
bingung, nomornya tidak dia kenali. Tapi dia tetap mengangkat telepon itu
karena dia berpikir mungkin saja ada berita penting dari orang ini. Saat dia
jawab telepon itu, dia sama sekali tidak mengira akan mendengar hal buruk. Tapi
apa daya, berita buruk pun sudah terlanjur melintas di pendengarannya dan
merasuk di ingatan. Berita itu cukup menusuk dan meremukkan hati Reno. Berita
apa yang dia terima?
Penelepon : “Maaf.. Apa ini benar nomor telepon
genggam Pak Reno?”
Reno : “Iya, benar.. Maaf sebelumnya, anda ini siapa? Kok bisa tau nomor telepon saya?”
Reno : “Iya, benar.. Maaf sebelumnya, anda ini siapa? Kok bisa tau nomor telepon saya?”
Penelepon : “Pak.. Saya tetangga dari kekasih bapak
yang bernama Rida.”
Reno : “Oh, iya iya pak.. Ada perlu apa
ya bapak menelepon saya? Apa ada berita penting dari Rida?”
Penelepon : “Iya pak, ada.. Kekasih bapak mengalami
kecelakaan beberapa menit yang lalu.”
Reno : “Apa? Kecelakaan? Astaga, bagaimana
ini bisa terjadi? Tuhan.. Ada apa dengan kekasihku.. L Sembuhkan kekasihku, Tuhan…”
Penelepon : “Dia mengalami luka yang sangat parah.
Dia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tapi dia sudah tidak kuat lagi.”
Reno : “Maksud bapak bagaimana? Tolong
jelaskan, pak.. Tolong!!”
Penelepon : “Mohon maaf pak sebelumnya. Saya harus
mengatakan ini pada anda hanya melalui telepon genggam. Rida, kekasih anda
sudah tiada pak. Dia sudah meninggalkan dunia ini..”
Reno : “Oh Tuhan.. Apa benar berita ini? Baik pak.. Terima kasih atas berita dari anda.. Saya sangat berterima kasih pada anda.”
Reno : “Oh Tuhan.. Apa benar berita ini? Baik pak.. Terima kasih atas berita dari anda.. Saya sangat berterima kasih pada anda.”
Penelepon : “Sama-sama pak.. Anda harus tabah dengan
kejadian ini.. Rida pasti sudah tenang di alam sana.”
Reno : “Iya pak.. Terima kasih..”
Setelah mengetahui kematian
sang kekasih, Reno tampak muram dan sedih. Dia sungguh tidak rela dengan
kepergian pujaan hatinya itu. Dia masih merasa ini seperti mimpi buruk yang
masih saja menghantui tidurnya. Tapi apa daya, dia tidak bisa membohongi
kenyataan yang berbicara bahwa Rida telah tiada. Xuen yang mendapat kabar
kematian Rida dari Reno langsung terbang ke Indonesia untuk datang berziarah ke
makam Rida. Xuen sangat sedih dan terpukul. Karena, Xuen sudah menganggap Rida
sebagai kakak ipar. Mengapa demikian? Ternyata, Xuen menganggap Reno sebagai
kakaknya.
Kepergian Rida untuk
selama-lamanya memang membuat seluruh orang yang berada di dekatnya dan yang
menyayanginya sangat terpukul. Tidak terkecuali Reno yang sangat mencintai Rida
dengan segenap jiwanya. Tapi, dia sadar. Menangis dan meratapi tidak akan
mengembalikan jiwa Rida yang telah tiada. Jadi, Reno harus mendo’akan Rida. Dia
percaya kekuatan do’a dapat membuat Rida lebih bahagia di alam yang indah di
sana. Reno pun kini hidup tanpa jiwa dan raga Rida.
Asri Ariyantini S. (05)
Emperor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar